Desaku yang kucinta - pujaan hatiku - tempat ayah dan bunda - dan handai taulanku - tak mudah kulupakan - tak mudah bercerai - selalu kurindukan - desaku yang permai . . .

Sabtu, 26 Maret 2011

Ledang

Aku tidak tahu, ini bahasa Jawa atau bahasa lain, tapi teman2 waktu SD dulu memberikan kata-kata ini. Di desa Ngunut, ada 2 bioskop misbar (= gerimis bubar), salah satu yang terkenal adalah bioskop "NIAGARA".

(Setelah cari di internet, temukan di ARTI KATA DOT COM, arti kata 'LEDANG' ini adalah : memperagakan diri (berjalan-jalan) supaya dilihat orang... ohhh gitu tohhh...)

Untuk mempromosikan film yang diputar, mereka menggunakan mobil pick-up, dan sekelilingnya diberi bambu / besi. Kemudian gambar (poster) film yang sedang diputar, dipasang di rangka itu. Nah, mobil ini berkeliling ke desa-desa, dengan mewartakan film yang akan diputar lewat loud-speaker yang dipasang.

"Mari saksikan nanti malam! Pertarungan pendekar-pendekar Shaolin dengan jurus-jurus maut mereka! Drama percintaan, Kungfu, dibintangi oleh bintang-bintang film terkenal saat ini : Fu Shen, David Chiang, Yastaki Kurata, Lo Lieh, Ti Lung, dan lain-lain!"

Lalu, sambil berbicara demikian, si penyiar membagikan kertas yang kami sebut 'Koran', biasanya bergambar film yang diputar, tanggal ditayangkan, dsb.

Pernah, satu kali saya ikut teman-teman untuk duduk di mobil itu, istilahnya "Ikut Ledang" (sorry kalau salah ingat istilah ini). Senang sekali, berkeliling desa (walau agak mabuk - aku suka mabuk waktu kecil kalau naik mobil).

Ini contoh satu lembar 'kertas koran bioskop' yang disebarkan itu (walau aku mendapatkannya di Surabaya, waktu hunting buku-buku dan majalah2 loakan). Ini gambar film SUPERMAN III, tahun 1981 di Surabaya.



Tampak depannya (sorry sudah sobek, tapi kulaminating)





Browsing di GOOGLE dengan kata "Bioskop Misbar", temukan artikel ini :

Apa film pertama yang Anda tonton di bioskop? Kalau saya, berhubung masa kecil saya dihabiskan di desa pantai utara yang jauh timana timendi, alias jauh dari kota, membuat saya tergolong manusia yang amat telat mengenal yang namanya bioskop. Bioskop yang bagus maksudnya. Kalau BSS alias Bioskop Sangat Sederhana sih ya tidak bisa dibilang telat. Rasanya sewaktu kecil pun saya jarang menonton TV malah. Gara-gara TV hitam putih kami tersambar petir, dan entah kenapa ibu saya ogah-ogahan sekali membeli yang baru. Saya sedih sekali waktu TV kami gosong itu, karena menganggap Chicha Koeswoyo, Adi Bing Slamet, dan Ira Maya Sopha bertempat tinggal di tabung-tabung kecil aneh dan lucu yang berada di belakang layar TV itu (saya suka berdiam di belakang lemari tempat TV diletakkan, dan mencari-cari darimana orang-orang di layar TV itu muncul). Untunglah ternyata para bintang cilik itu ternyata selamat sampai besar, tidak ikut gosong bersama TV kami.

Film produksi bule yang pertama saya tonton adalah Flash Gordon. Saya menonton di bioskop kecil di kota Karawang bersama orang tua saya. Sepertinya waktu itu umur saya 5 atau 6 tahun. Karawang adalah kota terdekat dari kampung saya. Kampung saya itu di pantai utara, ditengah-tengah perjalanan antara Karawang dan Cirebon. Saya sangat terimpresi dengan film itu. Terutama oleh Kaisar Ming yang saya pikir-pikir sekarang mirip Dedy Corbuzier, lagu Flash-nya yang dilengkingkan Freddie Mercury, dan bulu ketiak Flash Gordon yang lebat banget, terlihat jelas sewaktu tangannya diikat ke atas gara-gara ditawan oleh pasukan kerajaan Kaisar Ming. Hal-hal aneh memang biasa diingat oleh anak umur segitu mungkin ya?. Tidak banyak yang bisa saya ingat sih soal bioskop dimana film itu diputar, kecuali gelapnya. Tapi saya tenang menonton dalam gelap karena diapit oleh ibu bapak saya. Tapi sampai saya besar tidak pernah namanya nonton bareng ibu saya berlangsung aman nyaman dan tenang. Pasti kena sensor manual. Saya ingat pernah menonton film Basic Instinct bareng ibu saya pas saya sudah di bangku SMU, hampir setengah film muka saya ditutup oleh sweater oleh ibu saya.

Film Indonesia yang pertama saya tonton adalah: SANGKURIANG. Huehehehehehe. Bintang filmnya adalah Suzanna dan Clif Sangra. Saya menontonnya waktu saya SD. Bersama sepupu saya yang jauh lebih tua, di sebuah bioskop yang bangunannya dari bilik dan tiang bambu. Tanpa atap. Alias Misbar. Kalau gerimis ya ditanggung bubar. Kecuali yang menonton bawa payung mungkin. Misbar disini ya bioskop sederhana dimana kita bayar karcis masuk, bukan layar tancap yang dipasang di lapangan itu.

Lihat selanjutnya di blog ibu Mira Marsellia di sini.

0 komentar:

Poskan Komentar