Desaku yang kucinta - pujaan hatiku - tempat ayah dan bunda - dan handai taulanku - tak mudah kulupakan - tak mudah bercerai - selalu kurindukan - desaku yang permai . . .
Tampilkan postingan dengan label Kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kenangan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Maret 2014

Hari ini, kenangan tentang desa NGUNUT kembali menyentak, tatkala seorang teman facebook, istri dari mas Yusak (putra alm. Pdt. S. Sadrach) mengupload foto ini dengan pertanyaan apakah aku ingat ini tahun berapa...

Langsung kurespon dengan mengatakan itu sekitar tahun 1982-1985 semasa SMA di Tulungagung dan waktu aku aktif pelayanan di gereja orang tua mereka. Ini foto waktu aku ke Surabaya (1986-1988an). 

Rabu, 10 April 2013

Nostalgia Pejuang Ngunut

Saya pernah dengar cerita dr mbah" saya. Desa Ngunut kab.Tulungagung. Dulu pernah di hajar senjata berat oleh sekutu.

Waktu itu jaman pejuangan mempertahankan kemerdekaan. Sekutu akan merebut Pabrik Gula Kunir. Jembatan sudah dihancurkan.

Sekutu mengamuk dan mehujani Ngunut dengan mortir, meriam dan senapan mesin kal.12,7. Semangat perjuangan Mbah" kita...

Sungai Brantas sebagai medan pertempuran. Pejuang kita sekali" membalas dengan tembakan meriam 12Omm "BANTENG BLOROK"..

Beberapa hari Mbah" kita bertahan. Sebelum di hajar sekutu dari arah Tulungagung. Susah payah sekutu menduduki Ngunut..

Di beberapa tempat pejuang kita gugur. Saya masih meneteskan air mata kalo ingat cerita Mbah saya..

Sepanjang jlan antara Ngunut-Tulungagung dipasang barikade. Pohon asam ditebang melintang di jalan. Menghmbat sekutu.

Dikisahkan ulang hari ini, Rabu 10 April 2013 oleh rekan FACEBOOK saya Bambang Susanto.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Film Mask of Zorro

Nonton film tv, Transtv "The Mask Of Zorro" malam ini, pasti mengingatkanku pada film TV-hitam putih, tahun 1978an yang kutonton di desa Ngunut, waktu aku masih SD dulu.

Sabtu, 10 September 2011

Belajar Organ / Keyboard

Waktu aku SMA, di salah satu ruangan, ada piano tua yang rusak. Aku sering curi-curi menggunakan piano itu, sekedar menghafalkan chord-chord yang kukenal.

Di desa Ngunut, dulu pernah 'musim' beli organ / keyboard. Kusebut 'musim', sebab bahasa sekarang adalah 'tren'. Jika musim Badminton (bulu tangkis), maka orang-orang beramai-ramai main bulu tangkis.

Nah, 'musim keyboard' ini membuatku memiliki banyak kesempatan melatih skill pianoku, sebab beberapa orang yang kukenal memberiku kesempatan memainkan keyboard mereka, sebab mereka 'beli' tapi 'tidak bisa pakai'...

Sewatku di Surabaya, aku juga sering main di Tunjungan Plaza, pada stand-stand / counter penjual piano - keyboard, tentu dengan seijin petugas (sales) yang menjaga di situ.




Upacara Bendera

Melihat bendera Merah Putih, selalu teringat waktu sekolah dulu, tiap hari Senin kita pasti mengikuti upacara. Baik di SD, SMP, SMA...

Rabu, 24 Agustus 2011

Perang Mercon Sreng Dor



Gambar diambil dari sini.
Ingatanku muncul saat menjelang Lebaran dan bulan puasa seperti sekarang ini. Dulu, waktu di Ngunut, pernah ikut perang 'mercon Sreng Dor' bersama anak-anak. Waktu itu rumahku sudah pindah di Jl. Recobarong.

Mercon ini dibuat dengan 'buntut lidi' yang panjang. Biasanya dipasang di sebuah kawat jemuran. (Oh ya, kawat ini juga ada di belakang rumahku yang pertam di Jl. Raya dan yang ke dua, di Jl. Recobarong!) Ah... jadi ingat almarhum mamaku... yang suka menjemur pakaian kami semua....

Waktu dinyalakan sumbunya, maka 'mercon sreng dor' ini akan melesat ke angkasa bagaikan roket. Terbang, dan di udara dia meledak 'DOR'! (Ah, jadi ingat mercon bantingan - yang harus dibanting untuk meledakkannya).

Mercon Sreng Dor ini kami gunakan untuk 'perang-perangan' di malam hari, saling mengirimkan mercon menyala ini ke arah lawan.

Minggu, 07 Agustus 2011

Roti Montor


"Roti Montor' adalah makanan yang kuingat bbrp hari yg lalu, sewaktu dalam perjalanan pulang dari gereja, siang hari, atau pulang dari kantor...

Sebenarnya itu roti goreng seperti yg biasa kita temukan di kota-kota kita. Entah, mungkin karena penjualnya selalu membawa roti-roti itu dengan sepeda motor, maka orang-orang menyebutnya dengan 'roti montor'?

Kuingat, penjual ini biasa membungkus roti goreng (beserta kompyang dan cakue) dengan kertas merang, di dalam keranjang yang dibawanya.

Biasanya kami memakan dengan menyisakan bagian yang terbalut gula disisakan / dimakan bagian akhir. Ya, itu kenangan masa kecil dulu!

Gambar diambil dari blog seorang ibu dari Malaysia.

Jumat, 05 Agustus 2011

Biskuit campur

http://www.blogger.com/img/blank.gif
Tadi malam, sewaktu beli snack 'pillow-keju' buat Sammy, dan 2 macam snack lainnya, sementara istriku membayar, aku teringat hal ini :

Tetanggaku di rumah pertama dulu, di kanan rumah kami, adalah penjual kue basah dan kue kering. Kami memanggil nenek itu dengan sebutan 'Wak'. Mereka berjualan kue mangkok, kue thok, pukis, dst, yang sangat terkenal, sebab seringkali pembeli-pembeli dari luar kota berbelanja di situ.

Nah, kalau lebaran seperti sekarang ini, omzet kue kering - dan biskuit - meningkat. Biasanya, setelah bulan puasa selesai, keluarga mereka memberi kami 'biskuit campur', yaitu biskuit2 yang tidak terjual, di dalam plastik besar, dengan aneka rasa ! Kenangan yang tak terlupakan!

(Gambar diambil dari sini)



Pada peta sederhana ini, rumah 'Wak De' ada di sebelah kanan rumahku (kuning), yaitu rumah yang warna hijau. Di antara rumah kami adalah rumah temanku, Yeremia, "Toko Subur".

Senin, 01 Agustus 2011

Bulan Puasa

Bulan Puasa, yang tahun ini dimulai hari ini, Senin 1 Agustus 2011, selalu membawa ingatanku kepada masa kecilku di desa Ngunut.

Aku dilahirkan oleh keluarga yang majemuk. Almarhum papaku keturunan Cina / Tiong Hwa, demikian juga almarhum mamaku. Nah, adik-adik mamaku ini berpencar : di Surabaya, di Jember, dan seorang adik perempuan terakhirnya, di desa Ngunut.

Bibiku yang paling bungsu ini (adik perempuan terkecil mamaku), adalah keluarga muslim. Kebetulan, nenek kami juga tinggal di rumahnya, Jl. Raya Ngunut, berselisih berapa rumah dari rumah pertama kami.

Setiap bulan puasa, 2 hal yang kukenang :

1. Nenek selalu menyediakan makanan pembuka (tajil) bagi cucu-cucunya. Sebenarnya, fokusnya ya anak-anak bibiku itu (5 orang : Mbak Tatik, Bagio, Budi, Endah dan Bambang). Tapi karena aku sering main ke rumah bibiku, aku juga ikut-ikutan 'berbuka', walau tidak puasa.

Biasanya nenek membuat kolak, kolak ketan, dan sebagainya.

Trus, kami sama-sama makan nasi lodeh, dan lain-lain.

2. Setelah berbuka, biasanya saudara misanku : Bagio, Budi dan lain-lain sholat Tarawih di masjid di belakang rumah ku. Nah, aku juga ikut-ikutan 'main' di masjid itu, tapi di halaman saja. Sekedar menunggu mereka sholat. Setelah selesai, ya kami pulang ke rumah masing-masing atau nonton bioskop.

Kenangan itu, tak kan kulupakan. Oh ya, aku dulu juga ikut-ikutan berlebaran bersama anak-anak di desaku. Mengunjungi rumah ke rumah dan bersalam-salaman dan mengucapkan 'Minal Aidin wal Faisin' (sorry kalau salah tulis), dan saling memaafkan. (Biasanya, waktu itu anak-anak diberi uang - dan ini yang kusenangi hi hi hi).

Lucunya, walaupun mamaku keturunan Cina, dia juga 'ikut-ikut'an acara / budaya MEGENGAN, yaitu membuat kue apam dan dibagikan ke tetangga. Papaku juga tidak melarang hal-hal ini, wong dia sendiri juga punya koleksi keris dan jimat-jimat yang lumayan banyak. Tiap Jum'at malam papaku juga membakar kemenyan dan memberikan sesaji atau apa namanya, sebuah meja yang dilengkapi dengan segelas air putih, kopi panas, 2 batang rokok. Waktu kutanya, : "Pa, itu untuk siapa?" "Untuk Kakek-mu" katanya.

Kini, puluhan tahun telah berlalu, aku selalu ingat : papa-mamaku, keluarga bibiku, nenekku, yang juga setia berpuasa. Semoga apa yang mereka lalukan mendapat balasan dari TUHAN Yang Maha Esa... Amin...

Jumat, 29 Juli 2011

Persewaan Komik dekat pabrik

Dekat rumah A Kian teman SDku, ada penyewaan komik juga, dekat Pabrik.

Ini merupakan tempat ke 2 yang kuingat, setelah penyewaan komik di depan rumah bibiku. Ada lagi, yang dimiliki oleh seorang yang rumahnya di depan pasar Ngunut, yang hanya buka pada malam hari.

Dari sini, aku membaca sebuah komik terjemahan X-MEN dan FANTASTIC FOUR. Waktu kubaca huruf2 kecil di bawah halaman depan / halaman 1, aku menyadari bahwa komik itu bukan dari Indonesia. Sebab, di sana ada tulisan NEW YORK, dan yang menggagumkanku, banyak nama-nama di sana. Juga tugas2nya : penciller, inker, dsb. Ini sangat membuatku kagum, dan sadar bahwa komik di sana bukan hal yang biasa.

Aku waktu itu bermimpi ingin jadi COLORER saja, memberi warna tokoh-tokoh itu!

Buku Kenangan masa SMA



Ini tulisan temanku, Wijayadi, yang bbrp hari lalu kutemukan fotonya di facebook.


Ini tulisan 'Didik Trimarsono' yang juga kutemukan di facebook.


Ini buku yang kubuat dari kertas Warna yang kubendelkan, kubuat untuk mengajak teman-teman SMAku mengisinya dengan coretan-coretan tangan mereka.

Aku berharap bisa bertemu dengan mereka lagi, siapa tahu anak / cucu mereka mengetik nama-nama ini, dan bisa menemukannya di internet :

1. Hadi Siswanto
2. Siswoko
3. Jumirah
4. Emi Sulistiyah
5. Ahsan Sri Hasta
6. Milah AK / Kamilah
7. Budi Prasetyo
8. Eni Widayatno
9. Imam S.
10. Sugeng (kalau tidak salah dengar, dia sudah meninggal dunia)
11. Eko Novianto N.
12. Pronting
13. M. N. Soe Li Khin
14. Bety Lazimah Baraba
15. Bambang Wijarnako
16. Didik Trimarsono
17. Agung Prihantoro
18. Sujud
19. Sihwiyani
20. Tri Wahyuni
21. Tutik Suwarni
22. Widjayadi
23. Budi Santoso
24. M. Guritno
25. Tri Yuwono
26. Eny Widayatno
27. Chatarina Endang Widayati
28. Wiji
29. Anjar Tri Cahyani
30. Sri A.
31. Yuyun Eka Rini
32. Elok Tridjatmiko
33. Ade Irma S.R.
34. Ainul Bisri Al Banjari
35. Tutik Suhartini
36. Waras
37. Lilik Sri Listyastuti
38. Soetaji
39. Pri Haryono
40. Prastono Adi
41. Kingkin Sulistiyoningsih
42. Bagus Wahyudiono
43. Eko Pudji Rahayu
44. Nenik Winarsih
45. Darmawan Tri Laksono
46. Budi Irawanto
47. Pujiono

(Waktu mengetik nama-nama mereka, terbayang wajah-wajah mereka, 25 tahun silam! Sebagian memang ada yang menempelkan foto2 jadul mereka ha ha ha )

dan lain-lain


Ini foto yang sempat ku scan, waktu bbrp teman mengadakan perpisahan ke Borobudur. Aku tidak ikut.

Senin, 25 Juli 2011

Sagon

Ya, mendadak ingat makanan khas ini, SAGON namanya. Kalau tidak salah, dibuat dari semacam parutan kelapa, dibungkus kertas. Dan, rasanya asin-dan khas. Di mana sekarang makanan seperti ini?

Minggu, 26 Juni 2011

Sahur . . . Sahur . . .

Di kala terbangun di dini hari,
saat kesepian masih berkuasa...
aku selalu teringat akan desaku,

di mana aku dulu juga menggunakan waktu masa mudaku,
di antara keheningan malam menjelang dini hari...

aku teringat, kala bermain gitar dan berjalan
berkeliling desaku, bersama teman-teman...
di dini hari...

kala itu, adalah bulan 'puasa', saat umat Islam
melaksanakan tugas mereka untuk berpuasa satu bulan
lamanya.

Beberapa orang secara berkelompok berkeliling desa, untuk membangunkan
mereka yang terlelap, dengan membawa alat-alat musik seadanya, kayu, bambu, dan lain-lain... sembari dipukul, mereka berteriak : "Sahur...sahur...sahur..."

Grup-grup kecil ini bertemu di jalan-jalan dan terus melakukan kegiatan mereka, hingga batas waktu yang disediakan untuk sahur berakhir.

Dan, aku ingat, akupun pernah pagi-pagi keluar bersama mereka, berkeliling kampung, membawa gitar, bernyanyi lagu-lagu sederhana...

di pagi hari...

(biasanya kuakhiri dengan minum kopi dan makan beberapa potong pisang goreng di sebuah warung - jika aku membawa uang)

Kenangan indah, tak kan kulupakan...

Bagaimana kenangan Anda di kala bulan puasa? Sudahkah Anda memiliki blog tentang desa di mana Anda dilahirkan?

Minggu, 19 Juni 2011

Space Ghost



Ya, teringat akan superhero kartun ini, yang dulu sering kutonton di televisi hitam-putih di desa Ngunut!

Temukan blog yang memuat gambar dia di sini.

Selasa, 14 Juni 2011

Budaya Wayang blog


Hari ini menemukan blog tentang 'Wayang', sangat menyenangkan waktu membaca bahasa Jawa yang tertulis di sana.

Tempatnya di WAYANG PRABU DOT COM.

Sabtu, 04 Juni 2011

Perbaikan Jalan


Melihat perbaikkan jalan di daerah Waru pagi hari ini, dalam perjalanan ke kantor, naik angkot - aku langsung teringat : dulu waktu di desa juga sering terjadi hal ini, jalan raya yang diperbaikki.

Dan, waktu kecil kami suka sekali main-main di alat penumbuk jalan itu. Tentunya setelah mereka beristirahat / tidak bekerja. Dan, pada 'jaman itu' alat-alatnya masih sederhana. Aku suka melihat mereka bekerja, memanaskan aspal, menuangkannya di batu-batu yang dihancurkan, kemudian 'melindas'nya dst.

Sabtu, 14 Mei 2011

Tempat Penitipan Sepeda

Di desa Ngunut ada beberapa tempat penitipan sepeda. Yang pasti ada di tengah Pasar Ngunut.

Yang lain, disediakan di sekitar area Gedung Bioskop. Setiap malam, penonton bioskop (beberapa dari desa-desa terdekat) menitipkan sepeda mereka di sana, dengan membayar ongkos titip.

Jika bioskop buyar, maka malam itu dipenuhi dengan sepeda-sepeda yang lalu-lalang, kembali ke rumah mereka masing-masing.

Biasanya, waktu nonton, aku cuma jalan kaki, sebab gedung Bioskop sangat dekat dengan rumahku.

Senin, 09 Mei 2011

C I M P L U N G

Siang ini, seorang teman kantor membagikan 'ketela-pohon' rebus. Sewaktu makan dan kuberi saus tomat ABC... ingatan ini melayang langsung pada makanan khas yang dulu pernah kumakan desaku dulu - - - namanya CIMPLUNG!

Berapa tahun aku tidak memakannya?

Wah.... kangen. Dia adalah ketela pohon yang dimasukkan ke dalam perebusan Gula Aren. Sehingga waktu matang dan diangkat, jadilah sejenis makanan bernama CIMPLUNG itu, ketela pohon rebus yang matang, dan disalut oleh gula aren... sedaphhhhh




Karena penasaran, cari di Google dan temukan BLOG ini : BLOGS DOT UNPAD DOT AC DOT ID - DESASUKAJAYA.



Ini naskahnya :

Tidak banyak mungkin yang mengetahui apa itu Cimplung. Kami pun sebelumnya tidak tahu apa itu Cimplung. Nama makanankah? Nama sejenis binatangkah? Atau mungkin sejenis tumbuhan. Sampai pada akhirnya ibu tetangga sebelah rumah yang kami tinggali memberi Cimplung itu, dan akhirnya kami tahu kalau itu merupakan nama sejenis makanan ringan yang terbuat dari Singkong.

Bagaimanakah bentuk Cimplung itu? Mungkin itu yang dipertanyakan oleh anda-anda sekalian. Bentuknya tidak berubah, tetap dalam bentuk singkong, tapi tentu saja kulitnya dikupas terlebih dahulu. Dan warnanya kuning kecoklat – coklatan. Rasanya? Jangan ditanya, kami semua disini sangat menyukai makanan itu. Itu memang makanan kampung tapi rasanya tidak ada tandingannya. Setiap kali berkunjung kerumah warga, yang pertama dicari adalah Cimplung. Sayangnya karena proses pembuatannya lama, kami sering kali kecewa karena tidak mendapatkan apa yang kami cari. Namun ada satu orang warga – Pak Ikin - yang berbaik hati mau membuatkan Cimplung sampai – sampai ia menyuruh anaknya untuk mengantarkan ke posko kami.Cara pembuatannya sendiri tidak sulit, hanya saja membutuhkan waktu yang lama agar Cimplung tersebut benar – benar jadi sempurna. Jadi, pertama – tama Air lahang direbus, Lalu ketika air lahangnya sudah mendidih singkongnya dimasukkan, kemudian tunggu sampai seharian agar air lahangnya menyerap ke dalam singkong. Air lahang itu sendiri merupakan gula merah setengah jadi yang awalnya merupakan hasil dari sadapan dari pohon kelapa yang memang merupakan mata pencarian masyarakat Sukajaya. Setelah seharian, Cimplung dapat dinikmati.

Selain singkong, ternyata masih ada beberapa buah-buahan yang dapat dijadikan Cimplung. Yaitu Kelapa dan Pisang. Kalau Cimplung Kelapa kami pernah mencicipi, namun kami belum pernah mencicipi Cimplung Pisang. Rasa Cimplung Kelapa tidak kalah enak namun menurut kami Cimplung Singkong tetap yang terenak. @Na_tomasu

Anda pasti punya makanan favorit di desa Anda. Apa ya? Aku pasti ingin tahu, dan jika ada kesempatan, pasti ingin mencicipinya - mencobanya! Ayo, bagikan pengalaman Anda tentang hal itu!

Sabtu, 30 April 2011

C i k a r


Cikar adalah alat transportasi yang biasa digunakan di desa kami, untuk mengangkut barang-barang, bisa berupa batu-bata, bambu, dsb.

Cikar ditarik oleh 2 ekor sapi. Aku ingat, dulu kalau ada cikar lewat dan kosong, maka anak-anak bisa melompat di bagian belakang dan ikut naik cikar itu.

Aku, jarang bisa melompat seperti mereka. Dan, bagiku cikar itu sangat tinggi...

Karnaval - Tarian


Acara yang menarik setiap 17 Agustusan, adalah adanya karnaval yang harus diikuti oleh seluruh sekolahan, dan kantor-kantor yang ada di desa Ngunut.

Yang sangat ditunggu-tunggu oleh orang-orang desa (dari luar Ngunut juga) adalah pada bagian terakhir, ada rombongan penari Irian Jaya / Papua.

Mereka selalu berpakaian ala Irian Jaya, dengan tali rafia, janur, bulu2, dan yang menarik, badan mereka diberi warna hitam legam!

Mereka menari dengan gaya tarian orang Irian Jaya, dan merupakan penutup yang sangat menarik dari acara karnaval itu.

Menurut orang-orang, tarian ini merupakan ide dari seseorang tentara yang dulu pernah bertugas di Irian Jaya.

Lucunya, kata orang, sehabis pertunjukan itu, mereka harus menghabiskan banyak sekali sabun (dan mandi di kali Brantas) untuk membersihkan tubuh mereka dari warna hitam itu!!!! Tapi itu sangat menghibur seluruh penonton acara 17 Agustusan! Dan tahun depan, mereka akan tampil lagi!