Semua catatan dan kenanganku tentang tempat kelahiranku (1968), sebuah desa kecamatan bernama : Desa Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur. (All my memories about my village, where I was born 43 years ago : Ngunut, Tulungagung, East Java, Indonesia)
Sabtu, 30 April 2011
Penghancur Batu Bata
Tepat di belakang rumahku ada kuburan juga. Dan ada beberapa rumah di sana. Salah satu rumah kulihat ada seseorang yang pekerjaannya adalah menghancurkan batu bata merah. Tujuannya, dia jual bubukan / serbuk batu bata merah itu kepada mereka yang membutuhkannya.
Pak tua itu (kalau tidak salah ingat, namanya Pak Karap), bekerja dengan cara menghancurkan batu bata dengan sebuah pemukul dari besi. Dia duduk di depan batu bata-batu bata itu, dan terus mengayunkan tongkat itu di atas kepalanya. Lama kelamaan, batu bata2 itu hancur.
Kemudian dia menyaringnya (= bhs. Jawa - - mengayaknya), supaya menjadi butiran-butiran yang halus. Yang masih kasar, dihancurkannya lagi. Demikian hingga tugasnya selesai, paka serbuk batu bata merah itu dijualnnya.
Harga tiket 2008 daera Tulungagung sekitarnya
1. Malang-Lawang-Purwosari-Pandaan-Surabaya Jarak (+/-) 85 km Tarip Batas Atas Rp 10.900 Tarip Batas Bawah Rp 6.700
2. Kepanjen-Malang-Pandaan-Surabaya Jarak (+/-) 104 km Tarip Batas Atas Rp 14.100 Tarip Batas Bawah Rp 8.700
3. Dampit-Malang-Pandaan-Surabaya Jarak (+/-)125 km Tarip Batas Atas Rp 16.000 Tarip Batas Bawah Rp 9.900
4. Blitar-Kesamben-Kepanjen-Malang-Pandaan-Surabaya Jarak (+/-)181 km Tarip Batas Atas Rp 23.100 Tarip Batas Bawah Rp 14.200
5. Malang-Pandaan-Surabaya-Bangkalan-Sampang-Pemekasan-Sumenep Jarak (+/-) 271 km Tarip Batas Atas Rp 35.300 Tarip Batas Bawah Rp 21.700
6. Kepanjen-Malang-Pandaan-Surabaya-Bangkalan-Sampang-Pamekasan-Pasean Jarak (+/-) 304 km Tarip Batas Atas Rp 38.700 Tarip Batas Bawah Rp 23.700
7. Kepanjen-Malang-Pandaan-Surabaya-Bangakalan-Sampang-Pamekasan-Pasean Jarak (+/-) 330 km Tarip Batas Atas Rp 42.000 Tarip Batas Bawah Rp 27.800
8. Malang-Pandaan-Surabaya-Mojokerto-Jombang-Kertosono-Nganjuk-Madiun Jarak (+/-) 246 km Tarip Batas Atas Rp 31.400 Tarip Batas Bawah Rp 19.300
9. Malang-Pandaan-Surabaya-Mojokerto-Jombang-Kertosono-Nganjuk-Madiun-Magetan Jarak (+/-) 273 km Tarip Batas Atas Rp 34.800 Tarip Batas Bawah Rp 21.400
10. Malang-Pandaan-Surabaya-Mojokerto-Jombang-Kertosono-Nganjuk-Madiun-Ponorogo Jarak (+/-) 276 km Tarip Batas Atas Rp 35.200 Tarip Batas Bawah Rp 21.600
11. Malang-Pandaan-Surabaya-Gresik-Lamongan-Babat-Tuban Jarak (+/-) 192 km Tarip Batas Atas Rp 24.500 Tarip Batas Bawah Rp 15.100
12. Malang-Pandaan-Surabaya-Gresik-Lamongan-Babat-Bojonegoro Jarak (+/-) 199 km Tarip Batas Atas Rp 25.400 Tarip Batas Bawah Rp 15.600
13. Banyuwangi-Genteng-Jember-Wonorejo-Probolinggo-Pasuruan-Malang-Kepanjen-Selerejo-Blitar-Tulungagung-Trenggalek Jarak (+/-) 480 km Tarip Batas Atas Rp 61.100 Tarip Batas Bawah Rp 37.500
14. Banyuwangi-Genteng-Jember-Wonorejo-Probolinggo-Pasuruan-Malang-Kepanjen-Selerejo-Blitar Jarak (+/-) 407 km Tarip Batas Atas Rp 51.800 Tarip Batas Bawah Rp 31.900
15. Probolinggo-Pasuruan-Malang-Kepanjen-Wlingi-Blitar-Ngunut-Tulungagung-Trenggalek Jarak (+/-) 265 km Tarip Batas Atas Rp 33.800 Tarip Batas Bawah Rp 20.800
16. Malang-Pasuruan-Grati-Problolinggo-Besuki-Sitobondo-Asembagus-Banyuwangi Jarak (+/-) 99 km Tarip Batas Atas Rp 12.700 Tarip Batas Bawah Rp 7.800
17. Malang-Pasuruan-Grati-Problolinggo-Besuki-Situbondo-Bondowoso Jarak (+/-) 297 km Tarip Batas Atas Rp 37.800 Tarip Batas Bawah Rp 23.300
18. Malang-Pasuruan-Grati-Problolinggo-Wonorejo-Tanggul-Jember-Genteng-banyuwangi Jarak (+/-) 231 km Tarip Batas Atas Rp 29.400 Tarip Batas Bawah Rp 18.100
19. Malang-Pasuruan-Grati-Problolinggo-Wonorejo-Tanggul-Jember-Arjasa-Bondowoso Jarak (+/-) 310 km Tarip Batas Atas Rp 39.500 Tarip Batas Bawah Rp 24.300
20. Malang-Pasuruan-Grati-Problolinggo-Wonorejo-Tanggul-Jember Jarak (+/-) 239 km Tarip Batas Atas Rp 30.500 Tarip Batas Bawah Rp 18.800
21. Malang-Pasuruan-Grati-Problolinggo-Wonorejo-Tanggul-Jember-Sitobondo Jarak (+/-) 195 km Tarip Batas Atas Rp 24.900 Tarip Batas Bawah Rp 15.300
22. Malang-Pasuruan-Grati-Problolinggo Wonorejo-Tanggul-Jember Jarak (+/-) 214 km Tarip Batas Atas Rp 27.300 Tarip Batas Bawah Rp 16.800
23. Kepanjen-Malang-Pasuruan-Grati-Problolinggo-Wonorejo-Tanggul-Lumajang-Kencong-Balung-Jember Jarak (+/-) 215 km Tarip Batas Atas Rp 27400 Tarip Batas Bawah Rp 16.900
24. Malang-Pasuruan-Grati-Problolinggo Wonorejo-Lumajang-Kencong-Balung-Jmbr Jarak (+/-) 218 km Tarip Batas Atas Rp 27.800 Tarip Batas Bawah Rp 17.100
25. Kepanjen-Malang-Pasuruan-Probolinggo-Wonorejo-Lumajang-Kencong Jarak (+/-) 239 km Tarip Batas Atas Rp 30.500 Tarip Batas Bawah Rp 18.800
26. Tulungagung-Blitar-Kepanjen-Malang-Pasuruan-Probolinggo-Besuki-Situbondo-Asembagus-Banyuwangi Jarak (+/-) 428 km Tarip Batas Atas Rp 54.500 Tarip Batas Bawah Rp 33.500
27. Tulungagung-Ngunut-Blitar-Kepanjen-Malang-Pasuruan-Probolinggo-Tanggul-Jember Jarak (+/-) 327 km Tarip Batas Atas Rp 41.600 Tarip Batas Bawah Rp 25.600
28. Malang-Pasuruan-Probolinggo-Klakah-Wonorejo-Kencong-Balung-Ambulu Jarak (+/-) 214 km Tarip Batas Atas Rp 27.300 Tarips Batas Bawah Rp 16.800
29. Trenggalek-Tulungagung-Blitar-Kepanjen-Malang-Pasuruan-Probolinggo-Wonorejo-Kencong-Balung-Ambulu Jarak (+/-) 319 km Tarip Batas Atas Rp 48.200 Tarip Batas Bawah Rp 29.700
Patas AC seat 2.2 = Malang - Surabaya Rp 15.000
Diambil dari ASTERIX WEB GROUP
C i k a r

Cikar adalah alat transportasi yang biasa digunakan di desa kami, untuk mengangkut barang-barang, bisa berupa batu-bata, bambu, dsb.
Cikar ditarik oleh 2 ekor sapi. Aku ingat, dulu kalau ada cikar lewat dan kosong, maka anak-anak bisa melompat di bagian belakang dan ikut naik cikar itu.
Aku, jarang bisa melompat seperti mereka. Dan, bagiku cikar itu sangat tinggi...
Karnaval - Tarian

Acara yang menarik setiap 17 Agustusan, adalah adanya karnaval yang harus diikuti oleh seluruh sekolahan, dan kantor-kantor yang ada di desa Ngunut.
Yang sangat ditunggu-tunggu oleh orang-orang desa (dari luar Ngunut juga) adalah pada bagian terakhir, ada rombongan penari Irian Jaya / Papua.
Mereka selalu berpakaian ala Irian Jaya, dengan tali rafia, janur, bulu2, dan yang menarik, badan mereka diberi warna hitam legam!
Mereka menari dengan gaya tarian orang Irian Jaya, dan merupakan penutup yang sangat menarik dari acara karnaval itu.
Menurut orang-orang, tarian ini merupakan ide dari seseorang tentara yang dulu pernah bertugas di Irian Jaya.
Lucunya, kata orang, sehabis pertunjukan itu, mereka harus menghabiskan banyak sekali sabun (dan mandi di kali Brantas) untuk membersihkan tubuh mereka dari warna hitam itu!!!! Tapi itu sangat menghibur seluruh penonton acara 17 Agustusan! Dan tahun depan, mereka akan tampil lagi!
Chat dengan Rudi
Kucoba mengumpulkan kepingan2 memori tentang Rudi ini :
1. Dulu, waktu aku SMA, dia masih SD, dan aku memang sering main ke rumahnya, untuk nonton televisi. Rumahnya ada di seberang jalan, di sebelah kanan rumahku di Jl. Raya Ngunut.
2. Kalau tidak salah, papa-mamanya dulu berjualan / bisnis tembakau.
3. Mereka masih ada hubungan family dengan tetanggaku Agus Iswahyudi (Nyoo Bie), yang sering aku main mobil-mobilan (sebangsa Hotwheels) di rumahnya.
4. Rudi ini sekarang sudah menikah, dan punya anak yang lucu-lucu.
Dia mengundangku untuk main ke rumahnya di Ngunut, kalau aku berkesempatan berkunjung ke sana kelak... bukankah luar biasa teknologi komputer dan internet saat ini?
Lagu Jawa

Di Facebook hari ini seorang rekan menulis tentang pernikahan putra mahkota Kerajaan Inggris :
E, mantene teko . . .
E, beberno kloso . . .
(kulanjutkan)
E, klosone bedah . . .
E, tembelen jadah . . .
E, jadahe mambu . . .
E, pakakno asu, . . .
E, Asune mlayu . . .
Nah lupa terusannya ????
Ingat juga sebuah lagu waktu aku masih di TK (sekitar th 1973-74)
Waktu itu kami bermain di halaman sekolah dan berputar membentuk lingkaran :
Gundul gundul pacul . . . gemblelengan . . .
nyunggi-nyunggi wakul-kul . . . gemblelengan . . .
wakul nglempang . . . segone dadi sak latar . . .
wakul nglempang . . . segone dadi sak latar . . .
(tentang seorang anak gundul / botak, dia membawa sebakul nasi di atas kepalanya. Tapi karena langkah kakinya tidak hati-hati, bakul itu tumpah dan nasinya berceceran di tanah)
Oh ya, ada satu lagi :
Aku nduwe adik,
tak lingguhne dingklik,
tibo jungkel walik,
udele ditutul pitik !
(Aku punya adik, kududukkan di kursi. Waktu dia jatuh, pusarnya dipatok ayam..)
Kamis, 28 April 2011
Titip Rindu buat Ayah - Ebiet G. Ade
Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm…
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm…
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia
Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm…
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia
Koleksi Ebiet G Ade yang lain.
Mp3 Download & Lirik Lagu Ebiet G Ade – Titip Rindu Buat Ayah
Gambar Artis Indonesia
Download video di sini :
Download Youtube Video Clip Ebiet G Ade – Titip Rindu Buat Ayah
Foto Artis Indonesia
Juga kumuat di blog untuk papa dan mamaku.
Pulang tiap bulan ke rumah - 1986-1988
Selama beliau hidup, aku pulang sebulan sekali. Dari Surabaya, naik bis malam, sampai di desa Ngunut sekitar jam 2 pagi. Aku turun bis, berjalan kaki lewat SD GILANG 1, dan menuju rumah. Dan, aku hanya mampu memberi mamaku uang Rp. 10.000,- dari gajiku Rp. 50.000 tiap bulan.
Jelas, uang itu tidak akan cukup untuk kebutuhan mamaku dan adik-adik perempuanku. Tapi kuterus berjuang, untuk bersemangat bekerja di Surabaya!
Sampai detik ini aku tidak pernah berpikir akan mampu membalas cinta kasih mama dan papaku yang kuterima selama ini (papa meninggal waktu aku berumur 13 tahun, mama meninggal waktu aku berumur 20 tahun). Tidak mungkin.
Gereja Tua
Masihkah kau ingat waktu di desa
Bercanda bersama disamping gereja
Kala itu kita masih remaja
Yang polos hatinya bercerita
Waktu kini tlah lama berlalu
Sudah sepuluh tahun tak bertemu
Entah dimana kini kau berada
Tak tahu dimana rimbanya
Reff :
Hanya satu yang tak terlupakan
Kala senja di gereja tua
Waktu itu hujan rintik-rintik
Kita berteduh di bawah atapnya
Kita berdiri begitu rapat
Hingga suasana begitu hangat
Tanganmu kupegang erat-erat
Kenangan itu slalu kuingat
Biarpun saat ini kau telah berdua
Itu bukanlah kesalahanmu
Ku hanya ingin dapat bertemu
Bila bertemu puaslah hatiku
Bila bertemu puaslah hatiku
Koleksi Panbers yang lain.
Mp3 Download & Lirik Lagu Panbers – Gereja Tua
Kenangan akan lagu ini, ada sebuah 'Gereja' di timur desa Ngunut, kalau tidak salah GPDI Ngunut. Dan, disitulah lokasi bekas Pabrik Gula tua... kami sering bermain di sana, pemandangannya sangat rimbun, penuh pohon-pohon besar dan ilalang yang tinggi.
Lagu-lagu lain yang juga membawa kenangan bagiku - pada jaman-jaman itu juga banyak :
"Madu dan Racun" - Arie Wibowo
"Sarjana Muda" - Iwan Fals
"Salam Terakhir" - Ikang Fawzy
"Walau Sekejab" - Arie Wibowo
"Boulevard" - Dan Bird
"Merpati tak pernah Ingkar Janji" - Paramitha Rusady
dan banyak lagi...
Rabu, 27 April 2011
Break Dance

Aku ingat, dulu waktu SMP terjadi 'demam Break Dance' atau 'tari kejang'. Banyak anak-anak yang berlomba-lomba menarikan tarian ini.
Jika malam tiba, maka di emper-emper (depan - teras) toko-toko yang luas, sekelompok pemuda dan pemudi dengan pakaian yang trend saat itu, menyetel musik break-dance dengan nyaring, dan mereka menari-nari di sana.
Mungkin ada teman-teman Anda yang menyukai tarian ini? Kirimkan link mereka, dan saya ingin mendengar juga 'kenangan' mereka tentang tarian ini!
Gunung meletus
Kata orang, itu gunung meletus...
Timbangan besar

Aku teringat ada timbangan besar yang terletak di Stasiun Kereta Api Ngunut. Warnanya hijau, dan biasa dipergunakan oleh petugas untuk menimbang barang-barang yang akan dimuat ke gerbong kereta api.
Waktu kecil, aku sering naik ke atasnya dan bermain-main dengan jarum / penunjuk timbangannya... (tentu, kalau ada petugasnya aku kabur..)
Rumah Nenekku di desa
Rumah itu sederhana, ada ruang tamu, bale, kursi tamu dan meja, dan beberapa kamar (aku lupa). Dindingnya dari anyaman bambu (bhs. jawa : Gedheg).
Yang kuingat, waktu pulang dari rumah itu, (nenek tidak tidur di sana, tapi tidur di rumah tanteku - bibiku / adik mamaku, Bu Lek Tie - A ik Ti di jalan Raya II Ngunut), nenek sebelum menutup pintu selalu menghentakkan kakinya ke tanah 3 kali.
Waktu ku tanya ke nenek, apa alasanya selalu berbuat hal itu, beliau menjawab "Supaya Selamat..."
(Oh gitu caranya supaya selamat... doa menjejakkan kaki ke tanah 3 kali - pikirku)
Selasa, 26 April 2011
Dedy Noy - teman dari Ngunut
Hari ini chatting di FACEBOOK dengan teman dari Ngunut, adik kelasku di SD NGUNUT III. Dia teman dari Yongky.
siang agus
Selamat siang
masih ingat sama aku, aku adik klas sd ngunut 3
Nah, ini pertanyaan sing bikin pusing .. . ha ha ha wis piro taun ga ketemu - - - tapi harus bersyukur, ada FESBUK ini... hayo pertanyaannya : Siapa guru kelas 6 waktu itu (sebutkan 2 atau 3 orang) test test
bu darni no
kalau aku waktu itu yg ngajar bu darni
Betul - - - nah gini baru cah Ngunut ha ha ha
Aku ingat Pak Domo (kepala sekolah sing rambute putih). Aku pernah nyapu di halaman, trus di omeli, diberi contoh ha ha ha
tul itu, aku satu angkatan sama yongky
Oalah... koncone Yongki..
ya, satu angkatan sejak sd sampai sma
Nah, aku kontak2 Yongky juga ga sengaja, di FB ini. Aku seneng nulis kenangan2 waktu SD, SMP, SMA, coba klik di blogku iki : http://ngunuttulungagungjawatimur.blogspot.com/
Namamu nanti juga kutulis di situ lhooo - judulnya ,teman Facebook - ku
sudah kok, sdh lama sekali aku buka nya
masih sering plg ke ngunut
Ha ha ha - nah, kapan2 kalau ada foto2 KUNO, jaman SMP, SD boleh tak pajang di situ. Kalo foto sekarang ga usah ha ha ha (wis tuwek)
Ke Ngunut 1 tahun sekali . . .pas lebaran saja
mampir ya
aku di rumah mertua, gang roda
Wah sip - - - tapi harus janjian, supaya ketemu
dr tadi yg ngetes kamu, ganti aku sekarang , trus aku ini sapa ?
Ha ha ha iki sing bingung - soale aku terakhir ninggalno Ngunut tahun 1986 - lulus SMA.
Trus aku kudu bongkar2 album mu di FB ini.
ok gak masalah, nama ku dedy setiono (biasa dipanggil jiji) dulu aku tinggal di etan pasar, utara nya toko mas jun
Ha ha ha - aku yo harus membongkar2 memoriku (di otak ini). Tapi asyik yo punya intenet seperti ini. Aku seneng buangett
dulu kamu pernah main ke rumah ku kok, aku sd satu angkatan sama akok, welly yongky (hayong)
Nah, si Akok iku aku apal...soale dulu sak gerejo ndik Suroboyo. Pancen bikin penasaran... alamat, lebaran iki harus mampir! Ben legooo
ok aku usaha warnet di gang roda
aku off dl nih
Kamis, 21 April 2011
Nonton wayang oragn

Waktu aku masih duduk di kelas SD, papaku sering mengajakku nonton pertunjukan 'wayang orang', yang kadang tampil di lapangan Pema, desa Ngunut.
Tentunya, aku juga harus berjuang melawan rasa kantuk sambil nonton wayang orang. Namun adegan yang kusukai adalah munculnya para punakawan : Gareng - Petruk - Bagong - Semar yang selalu menghibur dengan kekonyolan mereka.
Aku sangat mengagumi tata letak panggung, terutama waktu lampu menyala sesuai adegan yang sedang berlangsung : merah, biru, hijau, dsb. Juga kutahu bagaimana latar belakang / background itu diganti dengan menarik layar yg digulung di atas.
Aku juga tidak asing dengan nama-nama tokoh wayang (walau banyak yang aku ga ngerti - lupa) : Abimanyu, Bima, Kresna, Gatotkaca, Wisanggeni, Arjuna, Betara Narada dan sebagainya.
Ingatan ini muncul waktu hari Minggu kemarin, sepulang dari gereja, di dalam angkot aku bertemu dengan seorang bapak yang tampak ngantuk dan tertidur dalam perjalanan, sama seperti yang biasa kulakukan. Waktu kutanya mengapa dia mengantuk, dia bilang "Barusan nonton wayang kulit..."
Oh ya, salah satu hal lagi yang kusukai pada event nonton wayang itu, selalu rombongan mereka disertai dengan para penjual makanan yang hanya ada pada waktu ada pertunjukan : kue goreng, cakue, dan favoritku : martabak telur!
Gambar di atas kutemukan di sebuah blog yang berjuang melestarikan budaya 'Wayang Orang' ini di JAMAN SEMANA DOT WORDPRESS DOT COM.
Download film Super Inframan
1. THE WAR IN SPACE - 1977
2. STAR CRASH - 1978
3. SUPER INFRA MAN
Video di Youtube dibagi menjadi beberapa bagian - 1, 2, dst.
Misal di sini. Bagian ke 3.
Ini poster dari Wikipedia :

Rabu, 20 April 2011
Voltus 5

Film kartun (animasi) Jepang yang sangat menarik, sebab kutonton waktu aku masih tinggal di desa Ngunut, tempat aku dilahirkan. Walaupun sudah duduk di bangku SMA, aku sangat menyenangi film ini !
Bahkan syair lagunya dalam bhs. Jepang sempat kuhafalkan waktu itu.
Jaman itu, tontonan ini diedarkan lewat Video Cassette.
Gambar diambil dari sini.
Selasa, 19 April 2011
Penitipan Sepeda
Yang menarik, ada juga yang dikelola oleh pemilik gedung bioskop di desa kami. Dulu, kalau tidak salah bernama bioskop "NIAGARA", dan "PERDANA" (sorry kalau salah). Menariknya, jika ada film yang terkenal diputar : Dang Dut Haji Rhoma Irama, Suzanna, Film-film India, maka tempat penitipan ini full-house, penuh sesak!
Terang Bulan
Senin, 18 April 2011
War in Space 1977

Film ini mendadak muncul diingatanku, waktu buat blog baru soal film2 kuno yang pernah kubuat dan film2 baru yg kutonton di televisi (jarang ke gedung bioskop) dan menimbulkan kesan bagiku.
"WAR IN SPACE" memang film Jepang, dan temanya persis STAR WARS. Bagi orang desa, tidak mungkin nonton film STAR WARS asli, jadi film Jepang ini, dan terputus-putus (memang sudah kondisinya begitu, harus kita terima), cukup lumayan, mengobati kerinduanku akan dunia fantasi waktu itu.
Memang, film seperti ini sangat langka, dibandingkan film-film India (dengan bintang2 terkenal Hema Malini, Dharmendra, Ray Kapoor, dsb.), film-film kungfu Hong Kong (dengan bintang2 grup Shaw Brothers = David Chiang, Ti Lung, Lo Lieh, Fu Shen, Cen Kuan Tai, dsb).
Temukan naskah di internet (bersyukur ada teknologi seperti ini sekarang) :
di THE MILLION MONKEY THEATER DOT COM
Ada kalimat menarik di situs ini :
Go ahead, steal anything you want from this page, that's between you and the vengeful wrath of your personal god...
Juga kutemukan di homepage SCIFI MIN MOVIES DOT COM
Bahkan masih bisa kita membeli DVD film fantasi ini! Luar biasa!

Bisa Anda lihat di sini.
Juga donlod YOUTUBEnya di sini. Sungguh, aku sangat mengagumi teknologi 'jaman sekarang'. Apa yang dulu kulihat satu kali se-umur hidupku... sekarang bisa kulihat / kutonton berkali-kali!
Luar biasa bukan ??? Entah apa yang akan terjadi 20 tahun lagi - - - aku sangat bersemangatttttt..... juga membayangkan bahwa dulu, film-film ini seakan cuma jadi 'impian'... sekarang sebagian besar menjadi nyata!
Tidak pernah kubayangkan, 'hand-phone' di film STAR TREK Classic (1978-an), sekarang sudah dipakai oleh semua orang di dunia ini!
Wong Beji Boyolangu di Fesbuk
Minggu, 17 April 2011
Yongky, teman adikku ?
Penjual Nomor
Nomor apa yang dijualnya ?
Pada jaman itu dilaksanakan secara legal 'undian berhadiah'. Orang-orang membeli beberapa nomor yang dipercaya akan merupakan nomor yang tepat dengan 'nomor yang diterbitkan' oleh 'pusat'.
Misal, si A membeli nomor 51,33,55,44 masing-masing Rp. 500. Jika ternyata yang 'keluar / terbit' adalah nomor 55, maka dia mendapatkan uang Rp. 500 x sekian.
Nah, bapak ini dengan keahliannya berjualan suatu prediksi nomor yang akan keluar tadi.
Dia biasanya beroperasi dekat pasar Ngunut. Di sana, dia mencari tempat yang strategis. Kemudian dia membuka selembar kertas kosong yang cukup lebar. Dia mulai memperagakan hitungan-hitungannya berdasarkan nomor-nomor yang pernah keluar beberapa waktu silam.
Entah, dengan formula apa, yang pasti semua kata-kata yang keluar dari mulutnya bisa membuat beberapa orang yang tertarik berkerumun. Dan, sekian menit kemudian, dia mulai menjual / berjualan sebuah kertas yang dibungkus rapi. Di dalam kertas itulah dia menaruh 'nomor-khusus' hasil prediksinya.
Beberapa orang yang yakin dengan 'teori'nya, mulai mengeluarkan uang dan membeli bungkusan itu, dan akan dibuka nanti, untuk digunakan membeli 'nomor'.
Apakah mereka benar-benar menjadi 'pemenang'? Entahlah. Tapi, itulah salah satu profesi yang kuingat waktu aku kecil di desa Ngunut...
= = = tambahan Senin malam, 18 April 2011 = = =
Istriku mengingatkan, dia dulu waktu di desa (Blitar) juga pernah menjumpai orang-orang seperti ini, dan ada lembaran-lembaran kertas yang dibuat dengan sistim stensil, bergambar khusus dan disertai kode-kode / angka-angka khusus juga. Ini seperti terbitan selebaran bagi para pemburu hadiah - nomor ini!